Majalah Kesedaran Edisi Agustus 1940 Mengangkat Tulisan Tentang Negeri Hulu A’ik Berjudul “Usah oelangi sesoeatoe tabiat jang salah jang seroepa”

Majalah Kesedaran Edisi Agustus 1940 Mengangkat Tulisan Tentang Negeri Hulu A’ik Berjudul “Usah oelangi sesoeatoe tabiat jang salah jang seroepa”.
PONTIANAK, Dasawarsa Courant— Majalah Kesedaran edisi Agustus 1940, dalam roeang sedjarah majalah ini mengangkat tulisan tentang negeri Hulu A’ik dengan artikel berjudul “Usah oelangi sesoeatoe tabiat jang salah jang seroepa”.
Dalam tulisan artikelnya, pengasuh majalah Kesedaran mengingatkan kepada umat manusia untuk tidak mengulagi kesalahan yang sama. Karena hal tersebut dapat berakibat tercemarnya marwah, hingga bisa melenyapkan riwayat dari umat manusia itu dari muka bumi.
Dalam hal ini, pengasuh majalah Kesedaran itu memberikan contoh yang terjadi pada riwayat suatu negeri di Benua Kriyo, Laman Sengkuang, bernama negeri Hulu Ai’k.
Negeri Hulu Ai’k adalah negeri Laman Sembilan Demong Sepuloh, yang terdiri dari Buliq Belantiq, Puring Katingan, Kayung Tayap, Jalai Pesaguan, Jekaq Laur, Bihaq Keriyo, Darat Pantai Kapuas, Mahap Sekadau, hingga Sabah dan Sarawak.
Negeri Hulu Ai’k dibangun oleh Raja Sia’ Beulun, puteranya Raja Tedong Rusi di negeri Ulun atau Sedulun di tanah Samangawang atau Muruk Lingu. Sia’ Beulun ketika masih bayi dibuang ke sungai oleh Raja Tedong Rusi.
Sia’ Beulun ditaruhnya dalam satu bambu betung yang sangat besar ruasnya hingga terhanyut ke negeri Tanjung Pura dan diambil sebagai anak oleh Raja Tanjung Pura Hyang Ta, yang tidak memiliki anak laki-laki.
Sia’ Beulun yang masih bayi itu dinamai Sadung oleh Raja Hyang Ta. Setelah diketahuinya jika bayi tersebut adalah anaknya Raja Tedong Rusi di negeri Ulun atau Sedulun, sehingga bayi itu pun digelarinya Sia’ Beulun atau Cinga’ Ulun yang bermakna Panglima dari negeri Ulun atau Sedulun.
Sia’ Beulun ini tidak sama orangnya dengan Siak Bahulun, yaitu suaminya Ratu Betung, Raja Tanjung Pura. Walaupun silsilah keluarga datuknya Siak Bahulun dari sebelah Ibunya bertemu dengan Raja Sia’ Beulun itu.
Negeri Hulu Ai’k menghilang riwayatnya ketika Demong Serongkah melindungi raja Tanjung Pura, Siak Bahulun, yang masih bepangkat cicitnya itu, setelah menyerang negeri Panggau Banyau atau Tamputn Juwah. Akibatnya, negeri Hulu Ai’k dikucilkan oleh negeri-negeri lain dan tidak disebut-sebut lagi namanya.
Kesalahan yang sama terulang pada saat Raja Singa Sulong berkuasa, yaitu menyerang negeri Lawai, negeri Kandadangan atau Kendawangan dan negeri Tanjung Raya di tanah Kubu. Serangan Raja Singa Sulong pada tiga negeri itu telah melanggar perjanjian damai yang diikrarkan oleh 112 raja-raja di Borneo pada tahun 1394 di tanah suci Tampun Bejuah. Akibatnya, negeri Hulu Ai’k semakin dikucilkan oleh banyak negeri dan tidak lagi menyebut-nyebut nama negeri itu. (Red)

1 Response
[…] Majalah Kesedaran Edisi Agustus 1940 Mengangkat Tulisan Tentang Negeri Hulu A’ik Berjudul “Usah … […]