Rosalie Hanasita Foundation Study Seni Hadrah Kalbar di Hotel Ibis Pontianak

Rosalie Hanasita Foundation Study Seni Hadrah Kalbar di Hotel Ibis Pontianak
Pontianak, Dasawarsa Courant— Rosalie Hanasita Foundation Study Seni Hadrah Kalimantan Barat di Hotel Ibis, di Jalan Jenderal Ahmad Yani Pontianak, pada Sabtu, 5 Juli 2025. Study bertujuan untuk menggali lebih lanjut tentang sejarah Kesenian Hadrah di Kalimantan Barat, sekaligus bertukar informasi dan data tentang kesenian yang mendapat pengaruh agama Islam itu.
Werda Ningsih, S.Pd, Pimpinan Redaktur Media Exclusive News, sebagai narahubung, ketika ditemui awak media ini mengungkapkan bahwa study ini sebagai tindak lanjut pertemuan beberapa waktu sebelumnya, pada 29-31 Mei 2025 di Jakarta.
“Study ini sebagai tindak lanjut pertemuan beberapa waktu sebelumnya di Jakarta, pada 29 hingga 31 Mei 2025. Dan kami patut berbangga karena kesenian Hadrah Kalbar telah menarik minat peneliti,” ungkap Werda.
Sebagai bahan study, buku berjudul ‘Seni Hadrah Kalimantan Barat’, tulisan Tomi, S.Pd.,M.E., menjadi referensi untuk penelitian lebih lanjut.
“Buku tulisan Tomi, S.Pd.,M.E., berjudul ‘Seni Hadrah Kalimantan Barat’, menjadi referensi study, yang nantinya akan dilakukan penelitian lebih lanjut,” sambung Werda.
Dalam kegiatan study, juga diperkenalkan buku ‘Sejarah Adat Dayak Cupang Desa’. Buku yang diterbitkan pada bulan Desember 2023 itu, diharapkan menjadi salah satu sumber informasi tentang sejarah masyarakat Kalimantan Barat.
Sekilas Tentang Seni Hadrah Kalbar
Kesenian Hadrah merupakan satu diantara kesenian tradisional di daerah Kalimantan Barat. Hadrah tumbuh dan berkembang pada saat Indonesia mendapat pengaruh agama Islam.
Hadrah merupakan kesenian yang berasal dari negeri Arab yang diiringi musik Terbang/Tar/Tahar dan kemudian alat musik ini menjadi ciri khas pengiring musik dalam suku Melayu di Kalimantan Barat.
Dari segi bahasa, hadrah berarti kehadiran yang berasal dari kosa kata bahasa Arab Hadhoro-yahdhuru-hadhrotan (hadrah). Sedangkan menurut istilah atau pada prakteknya menurut sebagian orang, hadrah merupakan irama yang diperdengarkan yang berasal dari alat musik rebana.
Pada pendapat yang lainnya lagi menyebutkan bahwa nama hadrah berasal dari nama kota di Semenanjung Arab, Yaman Selatan yaitu Hadramaut. Hal tersebut berlatarbelakang bahwa yang mengembangkan jenis kesenian ini di nusantara adalah para pendatang dari Hadramaut Yaman yang kebanyakan merupakan kaum pedagang.
Sejarah seni Hadrah tertua di Kalimantan Barat terdapat di Kerajaan Tanjungpura dan Sambas. Karena jenis kesenian ini merupakan salah satu jenis kesenian dari tanah Arab yang identik dengan agama Islam, dan Kerajaan Tanjungpura dan Sambas merupakan salah satu kerajaan tertua di Kalimantan Barat yang telah dimasuki agama Islam sejak periode tahun 628 Masehi.
Pada periode permulaan masuknya Islam di kerajaan Tanjungpura, jenis kesenian tanah Arab dari alat musik rebana ini belum bernama Hadrah. Hingga ketika Panembahan Giri Kesuma mengukuhkan dan mengumumkan bahwa Tanjung Pura telah menjadi Kerajaan Islam Sukadana Tanjung Pura-Matan pada tahun 1590, barulah jenis kesenian ini disebut Hadrah, karena banyaknya penyebar Islam dan pedagang dari Hadramaut datang ke negeri Matan.
Pada periode tahun 1740-an Masehi, seni Hadrah di Kerajaan Tanjungpura berkembang menjadi seni Hadrah Al-Banjari, karena dipengaruhi oleh jenis irama dan teknik pukulan hadrah dari negeri Banjar, Kalimantan Selatan.
Pada periode tahun 1750-an Masehi, jenis seni Hadrah Al-Banjari mulai berkembang di negeri Mempawah. Pada periode berikutnya berkembang di negeri Pontianak dan Sambas. Kemudian berkembang lagi ke negeri Landak. Selanjutnya berkembang di negeri Sanggau dan Sintang hingga ke Hulu Kapuas dan negeri Meliau-Tayan. (Red)

1 Response
[…] Rosalie Hanasita Foundation Study Seni Hadrah Kalbar di Hotel Ibis Pontianak […]