Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 Mengkritik Panembahan Sanggau “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 mengkritik Panembahan Sanggau

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 mengkritik Panembahan Sanggau

Pontianak, Dasawarsa Courant- Surat Kabar Berani terbitan 24 Juli 1925, dalam tulisan berjudul “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”, mengkritik Panembahan Sanggau yang dinilai terlalu congkak karena meninggikan derajatnya dari golongan orang Rumah. Sedangkan ia sendiri merupakan keturunan orang pendatang.

Surat kabar Berani pertama kali terbit pada hari Sabtu tanggal 4 Juli 1925. Dalam terbitan pertama tersebut tercantum nama Boullie sebagai redaktur.

Alamat redaksi dan administrasi surat kabar Berani di Kampung Darat Pontianak. Surat kabar ini dicetak oleh percetakan Hoea Kiauw Pontianak. Hoea Kiauw sendiri merupakan perusahaan percetakaan pertama yang ada di Pontianak.

Harga langganan selama 3 bulan sebesar f.3,-. Pada edisi pertamanya surat kabar Berani memuat slogan “Barang siapa yang benci pada kita, ialah musuh kita” yang tercantum pada halanan muka.

Surat kabar Berani sebagaimana disampaikan oleh Redakturnya menerima aduan dari rakyat apabila mengalami kesewenang-wenangan dari siapapun juga dan akan melakukan pembelaan sepantasnya akan aduan dari rakyat tersebut.

Surat kabar Berani lahir untuk nenentang kesewenang-wenangan kaum kapitalis dan imperialis terhadap kaum buruh dan tani khususnya yang ada di Borneo Barat. Melalui surat kabar Berani maka segala kesengsaraan rakyat khususnya kaum buruh dapat terekspos dan melalui pemikiran-pemikiran anti kapitalis dan imperialis yang termuat dalam isi surat kabar Berani diharapkan rakyat semakin sadar akan nasibnya yang mengalami penindasan.

Suara-suara kritik sosial diutarakan melalui berita-berita artikel yang memuat tentang kesengsaraan rakyat dalam berpenghidupan, bersekolah, pengobatan bagi yang sakit dan lain-lain sebagainya.

Semua keluh kesah rakyat yang dimuat dalam surat kabar Berani akibat merajalelanya kapitalisme dan imperialisme. Dan semuanya akan sirna apabila seluruh rakyat bersatu padu dalam memperjuangkan kehidupan yang penuh persaudaraan dan persamaan diantara rakyat semuanya. Demikianlah yang diberitakan dalam surat kabar Berani.

Surat kabar Berani juga menyinggung tingkah polah penguasa lokal di Borneo Barat seperti kebijakan Panembahan Sanggau yang membeda-bedakan golongan dan derajat.

Hal ini ditentang karena dianggap sebagai tindakan semena-mena dan membeda-bedakan ciptaan Tuhan berdasarkan derajatnya.

Dalam artikel terbitan 24 Juli 1925 berjudul “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”, surat kabar Berani mengkritik Panembahan Sanggau yang dianggap sangat sombong karena meninggikan derajatnya dari golongan orang Rumah. Sedangkan ia sendiri merupakan keturunan orang pendatang.

Berikut ini artikelnya,

“Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Sanggau satoe negeri jang ketjil telah poen mewariskan kekaloetan sedjak ini hari hingga masa jang akan datang oentoek anak tjoetjoenja jang diakibatkan riwajatnja soedah mati. Hal itoe tak lain sebab akibat dari oelah radjanja jang kedji.

Kekaloetan di negeri Sanggau djadi meloeas hal akibat daripada radjanja jang tjongkak meninggikan deradjatnja iaitoe orang Goesti lebih tinggi dari golongan orang Roemah. Iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III telah poen merendahkan deradjat golongan orang roemah iaitoe orang Bangsa Kampong, orang Bangsa Sangchrah, orang Bangsa Boeroeng, orang Bangsa Sanggau jang mendjadi pemilik tanah Sanggau.

Sedjak poen tanah Sanggau telah dibangoen oleh datoek mojang golongan orang roemah jang dimoelai diboeka hoetan rimbanja iaitoe dimoelai tahoen 1302 oleh doea saudara kembar dari orang Bangsa Sangchrah iaitoe Danoem dan Dakdoedak. Iaitoe pada peristiwa mereka itoe memotong pohon Bajam jang roeboeh melintang pada saat mereka mau masoek kedalam soengai Sekajam.

Pohon itoe daunnja lebar seperti daun Bajam maka dari itoe mereka seboet itoe pohon adalah pohon Bajam. Jang telah poen beberapa malam mereka diganggoe oleh boenji kokok ajam dari pohon itoe. Dan siangnja mereka potong pohon itoe tapi adjaibnja besoknja pohon itoe oetoeh lagi. Jang akibatnja djadi sakit demamnja poetri Dara Menante. Dan bisa lah semboeh poetri malang itoe saat dibawa berobat ke goea batoe jang ada toelisan diatasnja. Iaitoe lah mereka seboet tempat batoe toelisan itoe batoe Sompaj. Maka dari itoe tempat mereka potong pohon Bajam itoe djadilah ia tanah Kantoek.

Laloe apa hal Panembahan itoe Moehammad Thahir III mentjongkakkan dirinja itoe sebagai Goesti jang lebih tinggi dari golongan orang Roemah?

Sedangkan Allah Taala poen tidak membeda-bedakan deradjat manoesia di moeka boemi. Hanja ketaqwaan dan amal ibadah sadja djadinja deradjat tertinggi dihadapan Allah Taala.

Ia itoe lah Panembahan jang tak tau diri. Jang loepa asal oesoel dirinja jang boekan ketoeroenan langsoeng dari golongan orang Roemah itoe. Jang tak lain berderadjat menantoe dari golongan orang Roemah.

Ia itoe Moehammad Thahir III anaknja Panembahan Moehammad Ali II. Daripada itoe Panembahan Moehammad Ali II itoe anaknja Ahmad Poetera. Hingga lah Ahmad Poetera itoe anaknja Moehammad Thahir II.

Ia itoe lah Moehammad Thahir II itoe anaknja dari sebelah Panembahan Mempawah iaitoe Panembahan Ibrahim Moehammad Tsafioeddin. Ia poen poela djadi menantoenja Panembahan Moehammad jang berkawin dengan Dajang Mastika.

DJadi soedah poen terang seterang-terangnja ia itoe hanjalah berderadjat menantoe di negeri Sanggau. Tapi berperilakoe tjongkak merampas hak golongan orang Roemah.

Soedah poen datoeknja itoe Moehammad Thahir II soedah kedji meninggikan deradjatnja sebagai ia orang Goesti lebih terhormat dari orang Roemah dikehadapan pemerintah Belanda di Bogor. Jang saat itoe ia nja meminta-minta djabatan padanja pemerintah Belanda hinggalah meneken Zegel pengangkatan dari pemerintah Belanda tanggal 30 April 1860 di Bogor.

Ia poela soedah menghasoet pemerintah Belanda itoe goena mengoesir ia nja Pangeran Abdoel Pata bin Soeltan Moehammad Ali itoe jang sebagai radja sjah di negeri Sanggau itoe. Perilakoenja itoe soenggoeh kedji kepada jang tak lain pamannja itoe.

Hingganja ini hari iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III itoe berboeat kedji jang seroepa datoeknja masa lampau dengannja merendahkan golongan orang Roemah. Ia nja telah boeat itoe riwajat negeri Sanggau djadi mati. Jang akan djadi kekaloetan pada anak tjoetjoe negeri Sanggau itoe sehingga masa jang akan datang. (Red)

Baca juga :

Gusti Sulung Lelanang Marah kepada Van Hasselt

You may also like...

2 Responses

  1. April 19, 2025

    […] Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 Mengkritik Panembahan Sanggau “Sanggau riwajatnja soedah mati, Rad… […]

  2. April 19, 2025

    […] Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 Mengkritik Panembahan Sanggau “Sanggau riwajatnja soedah mati, Rad… […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *