Surat Kabar Berani 12 Oktober 1925 Kembali Mengkritik Panembahan Sanggau “Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”

Surat Kabar Berani 12 Oktober 1925 mengkritik Panembahan Sanggau

Surat Kabar Berani 12 Oktober 1925 mengkritik Panembahan Sanggau

Pontianak, Dasawarsa Courant- Surat Kabar Berani terbitan 12 Oktober 1925 kembali mengkritik Panembahan Sanggau dalam artikel berjudul “Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”. Surat kabar Berani beralamat redaksi di Kampung Darat Pontianak dengan redakturnya bernama Boullie.

Surat kabar ini dicetak oleh percetakan Hoea Kiauw Pontianak, yang merupakan perusahaan percetakaan pertama di Pontianak. Surat kabar ini pertama kali terbit pada hari Sabtu tanggal 4 Juli 1925. Harga berlangganannya sebesar f.3,- selama 3 bulan.

Surat kabar Berani memuat slogan “Barang siapa yang benci pada kita, ialah musuh kita” yang tercantum pada halaman muka. Surat kabar Berani menerima aduan dari rakyat apabila mengalami kesewenang-wenangan dari siapapun juga dan akan melakukan pembelaan terhadap aduan dari rakyat tersebut.

Kritik sosial diutarakan melalui berita-berita artikel yang memuat tentang kesengsaraan rakyat. Surat kabar Berani juga menyinggung tingkah polah penguasa lokal di Borneo Barat seperti mengkritik Panembahan Sanggau. Sebagaimana dalam artikel terbitan 12 Oktober 1925 berjudul “Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”.

Berikut ini artikelnya,

“Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”

Iaitoe lah satoe negeri Sanggau jang telah binasa riwajatnja semendjak naiklah radjanja jang boekan ketoeroenan langsoeng dari radjanja jang sjah. Ialah itoe Moehammad Thahir II. Ianja menantoe Panembahan Moehammad, ia poela anaknja Panembahan Mempawah Ibrahim Moehammad Tsafioeddin.

Ada poela Panembahan sebelah Mempawah itoe berkahwin dengan Utin Saripah. Ialah itoe poetri daripada Soeltan Moehammad Ali. Jang mana Soeltan Sanggau ini berkahwin dengan Utin Malaja.

Ianja Moehammad Thahir II itoe soedah poen meminta-minta padanja pemerintah Belanda oentoeknja diangkat djadi radja Sanggau. Perilakoe kedjamnja lagi ianja soedah poela mengoesir pangeran mahkota Sanggau iaitoe Pangeran Abdoel Pata, iaitoe anaknja Soeltan Moehammad Ali. Jang djoega ianja pangeran itoe tjoetjoenja Soeltan Zainoeddin.

Sehingga lah Pangeran Abdoel Pata itoe meninggal doenia di Balai Nanga tanggal 17 OEktober 1867. Pangeran Abdoel Pata itoe lah Radjanja Sanggau jang kesebelas. Ianja itoe tersingkir ke Balai Nanga setelah melawan pemerintah Belanda sedjak tanggal 30 Desember 1830.

Perilakoe kedjamnja dari Moehammad Thahir II itoe soedah poen meroesak riwajat negeri itoe. Sedang ianja hanja orang datang dari sebelah negeri Mempawah. Ianja hanja satoe menantoe jang berboeat semena-semena di negeri orang. Soenggoeh satoe radja jang tak tau dioentoeng.

Beloem lagi ianja soedah mengabarkan kabar doesta pada pemerintah Belanda bahwasanja ianja itoe sebagai Goesti lebih tinggi deradjatnja dari mertoeanja itoe. Makalah ianja soedah berboeat doerhaka pada mertoeanja jang radja sjah itoe.

Makanja ia poela berbolak-balik ke Bogor meminta-minta diangkat djadi radja Sanggau mengganti mertoeanja itoe. Hingga soedah poen ia teken Zegel pengangkatan tanggal 30 April 1860 dengan poela Soerat Kepoetoesan Nomor 6 tanggal 27 DJanoeari 1862 dengan pangkatnja Pangeran Ratoe Padoeka Seri Maharadja. Dengan poela ia minta pangkat Goesti kehadapan pemerintah Belanda.

Sedjak itoe poela soedah mati riwajatnja negeri Sanggau. Ia ambil paksa djabatan mertoeanja itoe, laloe ia oesir pangeran mahkota dari negeri lahirnja.

Hingga lah hari ini anak tjoetjoenja berboeat kedjam lagi. Iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III soedah menghinakan deradjat orang Bangsa Kampong, orang Bangsa Sangchrah, orang Bangsa Boeroeng, orang Bangsa Sanggau jang djadi poenja negeri Sanggau. Ianja mengabarkan lagi kabar doesta bahawasanja ianja Goesti lebih terhormat dari empat orang Roemah itoe.

Darimana terhormatnja deradjatnja itoe? Dari merampas hak-hak anak tjoetjoe orang Roemah.

Daripada itoe soenggoeh poen malang nasib Sanggau. Soedah poen riwajatnja mati, negerinja poela dikoeasai orang datang. Malahan ianja djoega roesak itoe Sanggau poenja riwajat dengan semau hawa nafsoenja. Hanja oentoek tamaknja ia pada koeasa jang boekan miliknja. (Red)

Baca juga :

Penerbit Nasional Tak Membayarkan Hak Royalti Penulis Daerah

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *