Buku Haji Rais Abdoerracman dilaunching di Hotel Mercure Pontianak

Werda Ningsih, S.Pd, Pimpinan Redaktur Media Exclusive News, sebagai Inisiator Launching Buku Haji Rais Abdoerracman di Hotel Mercure Pontianak, Senin, 12 Mei 2025

Werda Ningsih, S.Pd, Pimpinan Redaktur Media Exclusive News, sebagai Inisiator Launching Buku Haji Rais Abdoerracman di Hotel Mercure Pontianak, Senin, 12 Mei 2025

Pontianak, Dekade— Buku Haji Rais Abdoerracman dilaunching di Hotel Mercure, di Jalan Jenderal Ahmad Yani Pontianak, pada Senin, 12 Mei 2025, pukul 09:00.

Werda Ningsih, S.Pd, Pimpinan Redaktur Media Exclusive News, sebagai Inisiator Launching Buku Haji Rais Abdoerracman, mengemukakan bahwa Launching ini seyogianya dilaksanakan pada bulan Maret 2025, namun baru terealisasi pada bulan Mei 2025.

“Buku Haji Rais Abdoerracman telah dipersiapkan sejak bulan November 2024 untuk dilaunching pada bulan Maret 2025. Karena bertepatan dengan bulan puasa dan lebaran, sehingga rencana launching itu kami tunda dan baru bisa direalisasikan pada hari ini,” ungkap Werda.

Buku Haji Rais Abdoerracman telah lama ditulis oleh Tomi, S.Pd.,M.E., yaitu pada bulan Oktober 2015 hingga April 2016.

“Penulis buku ini adalah Tomi, S.Pd.,M.E., yang mulai ditulis pada 30 Oktober 2015 hingga 8 April 2016. Hampir 10 tahun buku ini telah selesai ditulis dan baru ditahun 2025 ini diterbitkan dan dilaunching,” kata Werda.

Dalam acara Launching buku Haji Rais Abdoerracman, juga diperkenalkan buku Khazanah Pantun Kalimantan Barat. Buku tersebut menjadi bahan presentasi dalam pertemuan dengan Relawan Indonesia Cerdas yang berlangsung pada Senin malam, 12 Mei 2025, pukul 20:00 – 23:00 wib.

“Selain Launching buku, terdapat dua rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan launching buku ini yaitu Bedah Buku bersama Forum Kolektor Media Lawas (Komal). Dan telah dilaksanakan kemarin malam, pada hari Minggu, 11 Mei 2025, pukul 20:00-23:00. Kemudian diskusi Buku Khazanah Pantun Kalimantan Barat bersama Relawan Indonesia Cerdas, yang akan dilaksanakan pada malam ini,” kata Werda.

Sekilas Tentang Haji Rais Abdoerracman

Haji Rais Bin Haji Abdoerrachman merupakan salah seorang Pahlawan Perintis Kemerdekaan di Kalimantan Barat. Haji Rais lahir pada tahun 1904 di kampung Parit Mayor yang sebagian besar penduduknya berasal dari suku Banjar. Ayah Haji Rais bernama Haji Abdoerrachman dan ibunya bernama Kesum. Haji Rais merupakan anak tertua dari lima bersaudara.

Haji Rais bin Abdoerrachman terkenal sebagai seorang jurnalis yang membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pers. Haji Rais beranggapan bahwa pers mempunyai peran penting dalam perjuangan untuk melakukan perubahan dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Bangkit dari kemiskinan dan kebodohan, serta perlawanan terhadap kekuatan yang menindas rakyat, merupakan hal yang disampaikannya kepada masyarakat.

Kemampuan jurnalis yang dipelajari Haji Rais selama di Jakarta dimanfaatkannya untuk mengelola beberapa media yang terbit di Kalimantan Barat. Ia ikut merintis kelahiran majalah Kesedaran yang merupakan media resmi dari organisasi Persatuan Anak Borneo (PAB), sebelum ia mengundurkan diri sebagai pengurus. Haji Rais Abdoerrachman menjadi pemimpin redaksi Majalah Kesedaran yang pertama terbit tahun 1939 itu.

Kiprah Haji Rais dalam dunia junalistik dan organisasi Sarekat Rakyat juga membuatnya ditangkap dan ditahan di Batavia dan mengantarkan Haji Rais ke pembuangan di Boven Digul. Apalagi setelah pemerintah Hindia Belanda mengetahui keterlibatan Haji Rais dan teman-temannya pada Kongres Pemuda I pada tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926 di Lapangan Banteng, Jakarta.

Haji Rais dan semua tokoh Sarekat Rakyat, yaitu Gusti Hamzah dari Teluk Melano-Ketapang, Djeranding Sari Sawang Amasundin atau Jeranding Abdurrahman dari Malapi Kapuas Hulu, Achmad Marzuki dari Pontianak, Gusti Sulung Lelanang, Gusti Moehammad Situt Machmud, Gusti Djohan Idrus, Achmad Sood, Mohammad Hambal atau Bung Tambal, dan Mohammad Sohor dari Landak, diputuskan dibuang seumur hidup ke Tanah Merah, Boven Digul, Irian Jaya (Papua) melalui pengadilan Batavia berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 1 April 1927. Pada akhirnya, tahun 1944 Haji Rais ditangkap dan dibunuh oleh Jepang.

Kemajuan pers di Kalimantan Barat tidak lepas dari peran Haji Rais yang aktif di dunia jurnalistik. Pemikiran-pemikirannya tentang kemandirian dalam segala bidang disampaikan kepada masyarakat melalui pers, untuk mendorong mayarakat agar tidak bergantung kepada orang lain atau pemerintah Belanda. (Red)

Baca juga :

Surat Kabar Berani 12 Oktober 1925 Kembali Mengkritik Panembahan Sanggau “Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *