Gelar Kuliah Umum Aksara Gholiks, Pemred Metro Voice Tekankan Pentingnya Warisan Literasi

Pimpinan Umum Redaksi Metro Voice, Tomi, S.Pd., M.E., menjadi pembicara dalam acara Kuliah Umum

Pimpinan Umum Redaksi Metro Voice, Tomi, S.Pd., M.E., menjadi pembicara dalam acara Kuliah Umum

JAKARTA — Pimpinan Umum Redaksi Metro Voice, Tomi, S.Pd., M.E., menjadi pembicara dalam acara Kuliah Umum bertajuk “Mengenal Aksara Gholiks: Bahasa, Budaya, dan Masa Depan Literasi”. Acara tersebut dihadiri peserta kuliah umum yang antusias mempelajari eksistensi dan pemanfaatan sistem penulisan unik ini.

Dalam pemaparannya, Tomi, menekankan pentingnya menjaga serta mengeksplorasi warisan literasi dan sistem simbol seperti Aksara Gholiks di tengah pesatnya era digitalisasi berita dan informasi.

Aksara Gholiks bukan sekadar susunan lambang atau simbol visual semata, melainkan refleksi identitas, sejarah, serta kedalaman pola pikir penggunanya. Di era media modern, pemahaman terhadap sistem penulisan unik seperti ini dapat memicu kreativitas baru dalam penyampaian konten dan dokumentasi sejarah,” ujar Tomi di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, Tomi, yang juga sebagai Pimpinan Redaksi Exclusive News memaparkan bahwa Aksara Gholiks merupakan sistim Tulisan Batu yang terdapat pada pahatan batu di Batu Pahat, Nanga Mahap Kabupaten Sekadau dan Batu Sampai, Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau. Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks.

Aksara Gholiks tidak sama dengan bentuk dan gaya aksara pada tujuh buah Prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Aksara Gholiks juga tidak sama dengan bentuk dan gaya aksara pada Papan Turai milik warisan leluhur orang-orang Iban, dan Papan Turai ini kini tersimpan di Musium Sarawak, Malaysia. Aksara Gholiks tidak sama juga dengan bentuk dan gaya aksara Dunging milik orang-orang Iban dan aksara Gagarit milik orang-orang Kadazan Dusun.

Aksara Gholiks yang ditemukan pada pahatan batu di Batu Pahat dan Batu Sampai, meskipun berasal dari sistim tulisan yang sama dan berasal dari bahasa yang sama yaitu bahasa Sangen dan bahasa Sangiang, namun kedua pahatan tulisan tersebut memiliki gaya penulisan yang berbeda. Pada pahatan Aksara Gholiks di Batu Pahat memiliki gaya penulisan yang lebih tua dari gaya penulisan Aksara Gholiks di Batu Sampai.

Gaya penulisan pada pahatan Aksara Gholiks di Batu Pahat cenderung tidak beraturan dan lebih banyak dalam bentuk simbol-simbol yang tidak membentuk sebuah kata atau sebuah kalimat. Masing-masing abjad aksara terdapat saling berdiri sendiri dan membentuk makna sendiri. Belum memiliki tanda baca dan terdapat juga abjad-abjad aksara yang terputus antara satu dengan lainnya.

Aksara Gholiks pada pahatan batu di Batu Sampai, merupakan gaya penulisan yang jauh lebih muda dari gaya penulisan di Batu Pahat. Pahatan abjad-abjad aksara Gholiks tersebut telah membentuk sebuah kata dan sebuah kalimat yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Telah terdapat tanda baca, yaitu sebuah abjad terdapat tanda sehingga membentuk bunyi sebuah kata, sehingga sedikit mempermudah dalam melacak maksud dari aksara-aksara yang terpahat pada Batu Sampai tersebut.

Terdapat juga tanda penekanan dan tanda berhenti pada sebuah kalimat. Bentuk tulisannya cenderung beraturan dan gaya penulisan pada aksara-aksaranya juga telah membentuk suatu jenis seni dalam penulisan.

Metode penulisan Aksara Gholiks ini dari kiri ke kanan seperti metode penulisan aksara Latin.

Mendorong Riset dan Integrasi Media

Kuliah umum ini terbagi ke dalam beberapa sesi materi utama:

  1. Sejarah & Karakteristik: Mengulas akar historis, keunikan struktur gramatikal, serta estetika visual dari Aksara Gholiks.
  2. Peran Media Masa Kini: Bagaimana industri jurnalistik dan media digital dapat membantu mendokumentasikan serta merevitalisasi aksara-aksara unik agar tidak hilang ditelan zaman.
  3. Peluang Teknologi: Diskusi interaktif mengenai digitalisasi font dan pemanfaatan teknologi optical character recognition (OCR) untuk pengenalan Aksara Gholiks.

Suasana semakin interaktif saat masuk ke sesi tanya jawab. Para peserta terlihat aktif berdiskusi mengenai tantangan mempelajari Aksara Gholiks serta bagaimana media massa seperti Metro Voice mempertahankan konsistensi dalam mengangkat topik-topik kebudayaan lokal maupun sistem literasi langka.

Komitmen Melestarikan Literasi

Pihak penyelenggara menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kesediaan pimpinan Metro Voice, yang juga sebagai Pemred Exclusive News ini untuk berbagi wawasan dan pengalaman industri.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta tidak hanya berfokus pada perkembangan teknologi informasi arus utama, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap pelestarian kebudayaan, kebahasaan, dan bentuk-bentuk literasi unik seperti Aksara Gholiks. (Red)

Baca juga: Tomi Paparkan Strategi Penyelamatan Aksara Gholiks

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *